Apakah pendekatan ilmiah itu?

Manusia adalah makhluk yang selalu bertanya tentang arti suatu fenomena. Ketika menghadapi suatu fenomena Hasil dari proses bertanya tersebut akan menghasilkan pengetahuan tentang fenomena itu. Apakah semua pengetahuan yang dihasilkan dari proses bertanya tersebut merupakan suatu ilmu?

 

 

Menurut Checkland (1993), berdasarkan sejarah perkembangan ilmu, didapatkan tiga karakteristik utama dari pendektan ilmiah, yaitu:

  1. Reductionism
  2. Repeatability
  3. Refutation

Reductionism adalah pendekatan yang mereduksi komplesitas permasalahan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga dapat dengan mudah diamati dan diteliti. Pendekatan analitikal adalah nama lain dari reductionism, yaitu mencoba untuk mencari unsur-unsur yang menjelaskan fenomena tersebut dengan hukum sebab akibat. Asumsi dari reductionism ini adalah bahwa fenomena keseluruhan dapat dijelaskan dengan mengetahui fenomena dari unsur-unsurnya. Ada satu istilah yang sering digunakan dalam hal ini, yaitu keseluruhan adalah merupakan hasil penjumlahan dari unsur-unsurnya. Oleh karena itu, berfikir linier adalah juga merupakan nama lain dari reductionism.

 

Salah satu prinsip yang sesuai dengan reductionism adalah Ockham’s Razor (Checkland, 1993), yaitu:

 

The reductionism of explanation is clear enough in the principle of Ockham’s Razor, but it is an extension of this which leads to the concept most usually thought of as ‘scientific reduction’, namely the explanation of complex phenomena in terms of simpler ones. Obviously if we can do this—if biological phenomena, for example, can be wholly explained in terms of physics and chemistry—the principle of the razor has been met: we have not multiplied entities unnecessarily. The reductionist ideal would be an explanation of social science in terms of psychology, of psychology in terms of biology, of biology in terms of chemistry, and of chemistry in terms of physics, most basic of the sciences.

 

Dalam bidang manajemen, pendekatan ilmiah atau scientific management oleh Taylor juga menganut pendekatan ini. Taylor menganggap bahwa organisasi bagaikan suatu mesin, yang terdiri dari fungsi-fungsi tertentu, Perilaku Organisasi merupakan penjumlahan dari fungsi-fungsi tertentu di dalamnya.

 

Contoh lain dari berfikir linier dapat dijelaskan dalam Gambar 1 berikut (Glass, 1996).

  Gambar-1 

Pada Gambar 1, pemotongan biaya dengan perampingan organisasi diharapkan dapat meningkatkan keuntungan (expected outcome). Namun, kenyataannya sering bertentangan dengan harapan ini (actual outcome). Dalam hal ini, berfikir linier tidak dapat menjelaskan mengapa hasil aktualnya berbeda dengan harapan.

 

Sifat kedua dari ilmu adalah repeatability, yaitu suatu pengetahuan disebut ilmu, bila pengetahuan tersebut dapat dicheck dengan mengulang eksperimen atau penelitian yang dilakukan oleh orang lain di tempat dan waktu yang berbeda. Sifat ini akan menghasilkan suatu pengetahuan yang bebas dari subyektifitas, emosi, dan kepentingan. Ini didasarkan pada pemahaman bahwa ilmu adalah pengetahuan milik umum, sehingga setiap orang yang berkepentingan harus dapat mengecheck kebenarannya dengan mengulang eksperimen atau penelitian yang dilakukan. Checkland (1993) memberikan suatu contoh pengetahuan yang repeatable sebagai berikut:

 

The inverse square law of magnetism, discovered, say in Boston, is found still to be an inverse square law when the experimetns are checked in Basingstoke.

 

Sifat ilmu yang ketiga adalah refutation. Sifat ini mensyaratkan bahwa suatu ilmu harus memuat informasi yang dapat ditolak kebenarannya oleh orang lain. Suatu pernyataan bahwa besok mungkin hujan atau pun tidak, memuat informasi yang tidak layak untuk disebut ilmu, karena tidak dapat ditolak. Ilmu adalah pengetahuan yang memiliki resiko untuk ditolak, sehingga ilmu adalah pengetahuan yang dapat berkembang, sebagai contoh  Teori Newton ditolak oleh Eisntein sehingga menghasilkan teori baru tentang relativitas.

 

Daftar Pustaka

  1. Checkland, P.B., Systems Thinking, Systems Practice. John Wiley, New York (1993).
  2. Glass, N., Non-Linier Systems and day-to-day management, European Management Journal, 14, no. 1, 98-106, 1996
  3.  

     

     

     

     

     

 

 

 

 

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s